Magister Manajemen Rumah Sakit

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Ditulis pada 7 Pebruari 2019 , oleh admin mmrs , pada kategori Agenda Kegiatan

foto hospital visit

Awal perkuliahan semester 2 di Prodi Magister Manajemen Rumah Sakit (MMRS) FKUB selalu menarik bagi mahasiswa. Pasalnya, di semester ini, mahasiswa akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan studi banding ke rumah sakit di luar negeri. Mahasiswa akan mengunjungi satu rumah sakit, namun dua rumah sakit dengan satu rumah sakit milik pemerintah  dan yang lainnya milik swasta. Dengan demikian, diharapkan mahasiswa dapat melihat kelebihan dan kekurangan sistem yang mempengaruhi tata kelola rumah sakit tersebut.

Pada tanggal 25 Februari 2018, mahasiswa Prodi MMRS terbang menuju Filipina dengan didampingi oleh 3 orang dosen. Negara yang dipimpin Rodrigo Duterte ini memiliki beberapa rumah sakit yang cukup terkenal di mancanegara yang dikunjungi oleh tim dari MMRS. St.Luke’s Medical Center misalnya, merupakan rumah swasta sakit terakreditasi JCI, yang menduduki peringkat 11 dari 25 “World’s Most Beautiful Hospitals” versi majalah Healthcare Management News Insight, salah satu dari 20 “Best Hospitals Worldwide” versi Diplomatic Council of Europe, serta bersertifikat “Quality in International Patient Care” dan “ Excellence in Medical Tourism” di 2013.  Rumah sakit lainnya, Ospital Ng Maynila Medical Center, adalah rumah sakit tersier non-profit milik pemerintah yang berafiliasi dengan Pamantasan ng Lungsod ng Maynila, salah satu universitas paling bergengsi di Filipina.Di tahun 2004, departemen bedah Ospital ng Maynila memperoleh penghargaan Human Resource and Development untuk Knowledge Management System-nya. Kedua rumah sakit ini berlokasi di Manila.

Di hari pertama kunjungan, tim MMRS mengunjungi St.Luke’s Medical Centre cabang Global City. Tim MMRS dibuat terpukau dengan kelengkapan dan keindahan fasilitas yang ada di St.Luke’s Medical Centre. Salah satu ruang kamar yang ditunjukkan oleh pihak rumah sakit memiliki kamar tersendiri untuk penunggu, ruang tamu dan ruang makan, serta kamar pasien yang dilengkapi dengan meja kerja, sehingga kamar tersebut lebih mirip dengan kamar hotel daripada kamar rumah sakit. Sebelum pasien dipindahkan ke kamar, pasien ditanyai terlebih dahulu suhu kamar yang diinginkan, musik yang ingin diputar dan lain sebagainya. Rupanya St.Luke’s Medical Center memang mengusung konsep “Hospitel”, sebuah konsep rumah sakit yang dipadukan dengan kenyamanan dan keramahtamahan hotel. Hal inilah yang mendorong rumah sakit untuk mengadakan pelatihan “service excellence” untuk staf dengan mendatangkan staf dari hotel, dengan harapan staf rumah sakit dapat memberikan pelayanan hospitable ala hotel bagi pasien. Sekalipun rumah sakit ini memang pangsa pasar utamanya adalah konglomerat, artis, dan pejabat di daerah Manila, rumah sakit ini tetap menerima pasien yang kurang mampu dan mensubsidi biaya layanan kesehatan mereka. St.Luke’s juga tidak pelit berbagi ilmu, sehingga pihak manajemen bersedia membimbing rumah sakit-rumah sakit lain di Filipina untuk terakreditasi JCI.

Di hari kedua kunjungan, tim MMRS mengunjungi Ospital Ng Maynila. Di sini tampak sekali perbedaan yang mencolok antara rumah sakit pemerintah dan swasta. Rumah Sakit Pemerintah yang dijalankan dengan pajak dari pemerintah ditantang untuk memenuhi berbagai fasilitas dengan biaya yang terbatas. Secara umum, kondisi rumah sakit pemerintah di Manila ini tidak jauh berbeda dengan rata-rata rumah sakit pemerintah di Indonesia. Namun, keramahan rumah sakit ini patut diapresiasi. Ke manapun tim MMRS pergi, tim MMRS disambut dengan senyum ramah dari staf dan salam. Bahkan, salah seorang satpam berusaha menyapa tim MMRS dalam bahasa Indonesia dengan menyampaikan “ Saya suka nasi goreng” dan “Saya cinta Indonesia”. Rumah Sakit ini rupanya sudah tidak terlalu asing dengan orang Indonesia mengingat beberapa orang Indonesia sedang mengikuti pendidikan spesialisasi di rumah sakit ini. Keramahan rumah sakit ini juga tampak dari penyajian makan siang gratis untuk tim sekalipun budget rumah sakit mereka terbatas. Staf medis di rumah sakit ini juga dengan sabar melayani berbagai pertanyaan yang diajukan tim MMRS dan bersedia berdiskusi dengan terbuka. Hal ini tidak lepas dari kepemimpinan direktur Rumah Sakit yang menanamkan value “hospitable” ke setiap sendi layanan di Rumah Sakit ini.