Magister Manajemen Rumah Sakit

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
Ditulis pada 23 Mei 2016 , oleh admin mmrs , pada kategori Agenda Kegiatan

Jadwal Workshop 2016
PS. Magister Manajemen Rumah Sakit
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

1. Manajemen SDM dan Perilaku Organisasi

A. Praktek Kepemimpinan dalam Mengelola RS
Pelaksanaan :  5-6 April 2016
21-22 September 2016

Dasar Pemikiran
Salah satu kunci penting untuk menjadi pemimpin yang efektif adalah kemampuan untuk melihat persoalan dan masalah dari kacamata yang berbeda. Kemudian kemampuan untuk mengambil jalan pemikiran yang berbeda dari jalan pemikiran yang biasa diambil. Pola pikir ini sering disebut sebagai pola berpikir kreatif. Berpikir kreatif akan membawa seorang pemimpin menjadi penggagas dan dengan kreatifitas akan mewujudkan gagasan ke dalam kenyataan. Tugas utama seorang pemimpin adalah menciptakan mimpi indah bagi organisasi dan membangun komitmen pengikutnya untuk mewujudkan mimpi tersebut. Kreatifitas merupakan kekuatan daya cipta yang mewujudkan karya dan kerja yang bertumpu pada inovasi. Jalinan yang terjadi antara konsep berpikir kreatif dan kreatifitas dilakukan dengan dua tahap berbeda; berpikir lalu berbuat. Aspek-aspek pengelolaan sumber daya, salah satu yang utama adalah SDM dan seluruh kemampuan organisasi untuk secara optimal diberdayakan untuk mencapai tujuan organisasi adalah yang paling penting, namun sulit. Dengan peningkatan berpikir kreatif maka kreatifitas tidak akan berhenti.

Materi

1.Prinsip-prinsip dasar dalam teori kepemimpinan
2.Tipe / gaya kepemimpinan
3.Mengenali perubahan dan mampu melakukan perubahan4.Berkomunikasi secara efektif dan rethorika seorang pemimpin
4.Keterampilan analitis yang akan berdampak kepada berpikir kreatif untuk membangun kreatifitas kerja sehingga terbentuk motivasi positif dalam bekerja.
5.Konsep kepemimpinan dan proses penerapannya
6.Konsep perilaku dan attitude para follower dan membangkitkan motivasi serta gairah dalam bekerja
7.Teknik negosiasi secara efektif terhadap pihak internal maupun eksternal perusahaan.
8.Teknik manajemen konflik dengan memanfaatkan office politic untuk meningkatkan produktifitas kerja

Sasaran

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur rumah sakit pemerintah dan swasta
4.Direktur klinik pratama
5.Middle manager (kepala divisi dan kepala sub divisi)

(Jadwal dan Deskripsi Download  disini)

B. Membangun Budaya Organisasi RS

Pelaksanaan :  12-13 April 2016
28-29 September 2016

Dasar pemikiran

Budaya organisasi merupakan hal esensial bagi suatu organisasi atau rumah sakit, karena budaya organisasi merupakan kebiasaan-kebiasaan yang terjadi dalam hirarki organisasi yang mewakili norma-norma perilaku dan diikuti oleh para anggota organisasi. Keutamaan budaya organisasi merupakan pengendali dan arah dalam membentuk sikap dan perilaku manusia yang melibatkan diri dalam suatu kegiatan organisasi. Budaya organisasi akan memberikan suasana psikologis bagi semua anggota, bagaimana mereka bekerja, bagaimana berhubungan dengan atasan maupun rekan sekerja dan bagaimana menyelesaikan masalah merupakan wujud budaya yang khas bagi setiap organisasi.

Materi

1.Diharapkan peserta pelatihan mampu memahami pentingnya sebuah budaya organiasi yang selaras dengan tujuan organisasi rumah sakit.
2.Diharapkan peserta pelatihan mampu menganalisa dimana dan bagaimana budaya real dalam organisasi rumah sakit.
3.Diharapkan peserta pelatihan mampu melihat dan memberikan solusi cacat budaya apa yang sedang terjadi di dalam rumah sakit.
4.Diharapkan peserta pelatihan mampu membangun sebuah budaya organisasi yang unggul.

Sasaran peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur/ kepala rumah sakit pemerintah dan swasta
4.Direktur/ kepala klinik pratama
5.Middle manager rumah sakit

(jadwal & deskripsi download disini)

2. Manajemen Keuangan

A. Effective Cost Manajemen di RS

Pelaksanaan :  10-11 Mei 2016
25-26 Oktober 2016

Dasar pemikiran

Manajemen biaya merupakan suatu sistem yang di desain untuk menyediakan informasi baik bersifat keuangan (pendapatan dan biaya) maupun non keuangan (kualitas dan produktivitas) bagi manjemen untuk identifikasi peluang-peluang penyempurnaan, perencanaan strategik dan pembuatan keputusan operasional mengenai pengadaan dan pengunaan sumber-sumber yang di pergunakan oleh organisasi. Manajemen biaya juga merupakan suatu sistem yang terintegrasi yang menunjukkan adanya hubungan dengan sistem lainnya seperti sistem desain dari pengembangan, sistem pembelian dan produksi, sistem pelayanan konsumen serta sistem pemasaran dan distribusi.

Manajemen biaya yang efektif merupakan ukuran utama akuntabilitas bisnis. Manajemen biaya merupakan fungsi dan tanggung jawab manajemen, dan harus dilaksanakan oleh tim menggunakan metodologi yang tepat. Manajemen biaya mencakup implementasi strategi serta penyediaan sumber daya dan proses, yang memastikan produktivitas tinggi dan menghasilkan produk berkualitas tinggi dengan biaya serendah mungkin. Jadi, manajemen biaya bukanlah mengenai pemotongan biaya, tetapi proses optimalisasi kinerja.

 Materi

1.Konsep biaya dan perilaku biaya
2.Teknik manajemen biaya praktis secara efektif seperti Differential Analysis, Cost-Benefit-Analysis, dan Activity Based Costing (ABC) atau Time-Driven ABC
3.Mendesain Sistem Manajemen Biaya

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Kepala bagian keuangan
4.Manajer yang terlibat atau bertanggung jawab dalam manajemen produk dan biaya operasional

(jadwal & deskripsi download disini)

B. Remunerasi

Pelaksanaan :  17-18 Mei 2016
8-9 Desember 2016

Dasar pemikiran

Staf klinis yang terdiri dari tenaga medis, keperawatan, farmasi, nutrisionis, keterapian fisik dan keteknisian medis adalah sumber daya manusia rumah sakit yang jumlahnya cukup besar dan merupakan ujung tombak pelayanan rumah sakit karena berhubungan langsung dengan pasien dalam memberikan pelayanan dalam memberikan asuhan medis, asuhan keperawatan, asuhan farmasi, asuhan nutrisi dan asuhan lainnya. Oleh karenanya sangat dibutuhkan komitmen dari unsur staf klinis ini dalam menjamin dan menjaga mutu pelayanan rumah sakit, begitu pula dalam menerapkan efisiensi. Tetapi tidak mudah untuk mendapat komitmen karyawan pada organisasi secara optimal, antara lain disebabkan kendala dan setting yang keliru dalam hal sistem pembagian jasa / insentif  kepada karyawan ( bagian dari sistem remunerasi  rumah sakit). Maka sistim remunerasi merupakan salah satu unsur yang cukup penting untuk diketahui oleh para manajer rumah sakit karena menyangkut biaya kehidupan dan penghidupan seluruh karyawan. Oleh karena itu perlu pemahaman bagaimana sistem remunerasi dapat dikembangkan dan disesuaikan berdasarkan kesepakatan melalui beberapa pendekatan yang lebih flexibel dan win and win.

Materi

1.Konsep remunerasi
2.Remunerasi sebagai pemicu motivasi kerja staf klinis.
3.Harmonisasi jasa medis staf klinis untuk mencegah potensi konflik organisasi.
4.Manajemen Kinerja dalam sistim remunerasi staf klinis di rumah sakit
5.Penyusunan Profesional grade dan aplikasi distribusi dalam sistim remunerasi staf klinis.
6.Langkah – langkah menyusun  sistim remunerasi staf klinis rumah sakit.
7.Alokasi dana untuk Remunerasi (Penetapan relative value unit bagi setiap kelompok staf klinis)
8.Peranan SIM-RS dalam sistim remunerasi RS  (Pemanfaatan IT dalam implementasi sistim remunerasi di RS)

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur Rumah Sakit Pemerintah/ Swasta kota Malang
4.Pemilik Rumah Sakit atau diwakili oleh Dewas/Direksi Perusahaan
5.Pejabat  keuangan yang diberi kewenangan dalam payroll.
6.Komite Medis
7.Komite Keperawatan
8.Komite Profesional lain
9.Staf klinis dan non klinis rumah sakit yang berminat

(jadwal & deskripsi download disini)

3. Manajemen Logistik

A.Manajemen Linen Rumah Sakit

Pelaksanaan  : 3-4 Maret 2016
3-4 November 2016

Dasar pemikiran

Manajemen pengelolaan linen menjadi sangat penting untuk dilakukan karena merupakan salah satu fasilitas layanan yang hasilnya berhubungan dengan kenyamanan dan kepuasan pasien sebagai penggunan jasa layanan. Tujuan pengelolaan manajemen linen adalah untuk mencegah infeksi nosokomial bagi pasien dan petugas RS, menjaga ketersediaan bahan linen dan kualitas linen, mengelola sumber daya RS untuk mampu menyediakan linen sesuai kebutuhan dan harapan pasien dengan memperhatikan proses pembiayaan dan meningkatkan kepuasan pasien dan keluarga serta meningkatkan citra positif RS dengan adanya penyediaan linen yang bersih, sehat dan benar sesuai dengan standar. Senada dengan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pengelolaan linen yang benar berhubungan erat dengan efisiensi biaya tanpa mengurangi mutu sesuai dengan indikator KARS 2014.

Materi

1.Dasar pengelolaan linen sebagai salah satu komponen penilaian akreditasi rumah sakit.
2.Perencanaan struktur organisasi di unit linen dan pengelolaan sumber daya manusianya.
3.Merencanaan kebutuhan linen mulai dari pemilihan kain, bahan untuk laundry dan perbaikan linen yang rusak.
4.Prosedur pengaturan alur dan distribusi linen.
5.Pengawasan kegiatan dan pelaporan kegiatan serta mampu melakukan penyusunan indikator mutu penilaian di unit linen.

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Kepala Bidang Pelayanan Penunjang
5.Kepala Ruang Keperawatan
6.Perawat
7.Pemerhati Mutu Pelayanan Kesehatan

(jadwal & deskripsi download disini)

B.Medical Nutritions Therapy for Obesity and Diabetes Mellitus

Pelaksanaan :  3-4 Februari 2016
3-4 Agustus 2016

Dasar Pemikiran

Masalah obesitas merupakan masalah yang dihadapi saat ini tidak hanya di negara maju tetapi juga dinegara berkembang. Peningkatan prevalensi obesitas ini sejalan dengan peningkatan berbagai penyakit tidak menular salah satunya adalah Diabetes mellitus. Pemahaman dan pelaksanaan yang tepat terkait dengan Manajemen Nutrition Therapy (MNT) pada kondisi tersebut akan memberikan dampak kesehatan yang positif. Hal tersebut tidak hanya menjadi tanggungjawab satu tenaga kesehatan saja akan tetapi perlu kolaborasi yang baik antar tenaga kesehatan yaitu dokter dan ahli gizi. Dari hal tersebut, perlu dilakukan Workshop MNT pada kondisi obesitas dan Diabetes Mellitus

Materi

1.MNT pada obesitas dan diabetes mellitus
2.Pengaturan makanan untuk kontrol berat badan
3.Carbohydrate counting

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Dokter pelaksana
5.Ahli gizi
6.Pemerhati gizi

(jadwal & deskripsi download disini)

C.Manajemen Unit Gizi

Pelaksanaan  : 10 – 11 Februari 2016
10 – 11 Agustus 2016
Dasar Pemikiran

Makanan yang diberikan kepada pasien di Rumah Sakit harus aman dan berkualitas, sehingga dapat membantu terapi medik yang bertujuan untuk mempercepat kesembuhan pasien. Kegiatan pengadaan makanan tidak terlepas dari peran Unit Gizi di setiap rumah sakit. Unit Gizi Rumah Sakit bertanggung jawab merencanakan jenis diet, pengadaan bahan makanan, persiapan dan produksi makanan, pemorsian makanan hingga pendistribusian makanan kepada pasien. Kompleksitas tersebut membutuhkan tata kelola yang baik dari seluruh sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu diperlukan Workshop Manajemen Unit Gizi dan Produksi Makanan Rumah Sakit untuk memfasilitasi kebutuhan Unit Gizi Rumah Sakit guna memberikan pelayanan gizi yang paripurna.
Materi

1.Proses  pengadaan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan dan pemorsian serta penyajian makanan.

2.Praktik pengadaan bahan makanan, penyimpanan bahan makanan dan pemorsian serta penyajian makanan.

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Kepala Unit Gizi
5.Ahli gizi klinik
6.Pekarya Unit Gizi

(jadwal & deskripsi download disini) 

D.Pengukuran Status Gizi Antoprometri

Pelaksanaan  : 29 Februari – 1 Maret 2016
31 Agustus-1 September 2016

Dasar Pemikiran

Pembanguan kesehatan adalah upaya pemerintah dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Pembangunan sektor kesehatan diarahkan untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan masyarakat. Ahli gizi sebagai salah satu tenaga kesehatan harus memiliki kompetensi untuk melakukan pengukuran antropometri sebagai salah satu metode untuk melihat status gizi seseorang.

Materi

1.Prosedur pengukuran antropometri  secara benar
2.Menentukan status gizi seseorang dengan tepat.

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Dokter pelaksana di Rumah Sakit
5.Dokter pelaksana di Puskesmas
6.Ahli gizi Rumah Sakit
7.Ahli gizi Puskesmas

(jadwal & deskripsi download disini)

E.Manajemen Logistik Farmasi Di Era BPJS

Pelaksanaan : 15-16 Desember 2016
 
Dasar Pemikiran

Sejak diselenggarakannya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) oleh pemerintah setiap penyelenggara pelayanan kesehatan pemerintah wajib untuk mengikuti aturan yang berlaku termasuk di dalamnya adalah penetapan daftar obat-obatan yang harus tersedia serta harga tertinggi yang ditetapkan oleh Menteri. Oleh sebab itu setiap penyelenggara pelayanan kesehatan harus membuat suatu pengelolaan sediaan farmasi yang baik, mulai dari pembuatan perencanaan kebutuhan obat hingga penjaminan keamanan, efikasi, dan kualitas perbekalan farmasi. Setiap penyelenggara pelayanan kesehatan wajib untuk menjalankan sistem logistik yang baik agar dapat meningkatkan akses dan kualitas pelayanan kesehatan serta mendukung pencapaian MDG (Millenium development Goals). Mengingat pentingnya kapabilitas SDM (Sumber Daya Manusia) dalam pengelolaan logistik perbekalan farmasi maka workshop ini sangat perlu untuk diadakan.

Materi

1.Penetapan Rencana Anggaran Belanja perbekalan farmasi
2.Memilih distributor yang kompeten untuk menjamin ketersediaan perbekalan farmasi
3.Mengelola perbekalan farmasi dan memastikan rasionalitas penggunaan perbekalan farmasi
4.Penjaminan kualitas perbekalan farmasi
Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Dokter pelaksana
5.Apoteker
6.Asisten apoteker

(jadwal & deskripsi download disini)

 

F.Error Bias On Perscribing Identification

Pelaksanaan : 22-23 Desember 2016

Dasar Pemikiran

Prescribing error merupakan salah satu dari jenis kesalahan medikasi yang paling sering terjadi. Konsekuensi dari kejadian ini dapat menyebabkan pasien mengalami sakit bahkan dapat menimbulkan kematian. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi kejadian tersebut adalah dengan melakukan validasi dan kuantifikasi pengukuran dan identifikasi prescribing error yang sistematik. Saat ini di Indonesia pengukuran dan identifikasi prescribing error belum berjalan dengan sistematik sehingga metode dalam menjalankan sistem tersebut perlu disosialisasikan kepada seluruh tenaga kesehatan.

Materi

1.Identifikasi kesalahan dalam analisis catatan medis terkait diagnosis yang tidak terdokumentasi
2.Mengenali kesalahan medikasi pada pasien polifarmasi dengan penyakit kompleks
3.Mengenali adanya kesalahan dispensing dan penyampaian obat
4.Menentukan pemeriksaan yang penting untuk mengidentifikasi adanya efek samping obat

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Dokter pelaksana
5.Perawat
6.Apoteker
7.Asisten Apoteker

(jadwal & deskripsi download disini)

4. Manajemen Mutu

A.Manajemen Pengendalian Infeksi Di RS

Pelaksanaan :  10-11 Maret 2016
10-11 November 2016
 

Dasar pemikiran
Pengendalian infeksi di rumah sakit merupakan suatu kegiatan yang sangat penting, selain kejadian infeksi seperti wabah atau KLB dari penyakit infeksi yang sangat sulit diperkirakan, sehingga perlu di waspadai. Pengendalian infeksi bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya penularan baik infeksi yang ditularkan dari pasien ke pasien, dari tenaga kesehatan ke pasien, baik infeksi dari luar rumah sakit maupun yang didapat di rumah sakit, hal ini sangat erat kaitannya dengan mutu pelayanan yang pada akhirnya sangat berkaitan dengan citra rumah sakit.

Kegiatan pengendalian infeksi bisa berbeda pada masing-masing rumah sakit tergantung dengan kegiatan klinis dan pelayanan rumah sakit, populasi pasien yang dilayani, lokasi geografis jumlah pasien dan jumlah pegawai. Program akan efektif bila ada pelatihan untuk staf rumah sakit untuk mengindentifikasi dan proaktif pada tempat berisiko infeksi, kebijakan dan prosedur yang memadai, pendidikan staf dan melakukan koordiansi ke seluruh staf.

Materi

1.Pedoman manajerial PPI
2.Prinsip dasar dan pencegahan PPI
3.Penerapan dasar infeksi dan program PPI
4.Handling hygiene dan kewaspadaan isolasi
5.Sanitasi alkes dan lingkungan kerja, Dekontaminasi alkes dan linen
6.Pedoman dasar dan teknik penggunaan APD
7.Manajemen dan penanganan limbah RS
8.Sistem manajemen lingkungan RS
9.Sistem manajemen laboratorium mikrobiologi dasar rumah sakit dan pengambilan sampel
10.Survilence dan evaluasi implementasi PPI

Sasaran

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Ketua dan anggota tim program implementasi PPI rumah sakit
4.Departemen P2K3 rumah sakit
5.Koordinator dokter, kepala perawat, kepala bidan
6.Departemen SDM rumah sakit dan semua pihak program pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit

(jadwal & deskripsi download disini)

B.Mengembangkan Indikator Manajemen Mutu RS

Pelaksanaan :  17-18 Maret 2016
17-18 November 2016

 Dasar pemikiran

Indikator mutu klinis adalah pengukuran manajemen klinis dan diwujudkan dalam angka. Di Indonesia, penetapan indikator mutu dipandu Peraturan Meneteri Kesehatan no 129 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. Dalam lampiran permenkes tersebut, diatur 21 jenis pelayanan dan 107 indikator yang telah ditetapkan standar minimalnya dengan nilai tertentu. Penyusunan indikator mutu yang tepat bukan hal yang mudah. Indikator mutu rumah sakit adalah ukuran kuantatif yang diukur untuk lebih memahami mutu pelayanan di rumah sakit. Indikator perlu dirancang dengan seksama dengan mempertimbangkan dimensi mutu yang ingin diukur, cara pengumpulan data, dan strategi analisisnya. Dengan hati-hati merancang indikator mutu pelayanan, sumber daya bisa dihemat, hasil lebih akurat, dan pengambilan keputusan di tingkat sistem mikro maupun sistem makro bisa lebih strategis.

Materi

1.Rencana strategi dan rencana kerja sebagai indikator kinerja
2.Indikator manajemen mutu dan macam-macam indikator
3.Keterampilan dalam menyusun indikator mutu layanan
4.Penetapan target dalam pembuatan indikator manajemen mutu
5.Analisis data indikator
6.Konsep monitoring dan evaluasi kinerja pelayanan di rumah Sakit
7.Keterampilan dalam menyusun tahapan proses monitoring dan evaluasi kinerja pelayanan rumah sakit
8.Keterampilan dalam menjalankan proses monitoring dan evaluasi kinerja pelayanan rumah sakit
 
Sasaran Peserta
1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Manajer operasional RS
5.Dokter Pelaksana
6.Koordinator perawat

(jadwal & deskripsi download disini)
C.Implementasi 6 Sasaran Keselamatan Pasien

Pelaksanaan :  24-25 Maret 2016
24-25 November 2016

Dasar pemikiran

Hampir setiap tindakan medis menyimpan potensi resiko. Banyaknya jenis obat, jenis pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf Rumah Sakit yang cukup besar, merupakan hal yang potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical errors). Kesalahan yang terjadi dalam proses asuhan medis ini akan mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera pada pasien, bisa berupa Near Miss atau Adverse Event (Kejadian Tidak Diharapkan/KTD).

Dalam kenyataannya masalah medical error dalam sistem pelayanan kesehatan mencerminkan fenomena gunung es, karena yang terdeteksi umumnya adalah adverse event yang ditemukan secara kebetulan saja. Sebagian besar yang lain cenderung tidak dilaporkan, tidak dicatat, atau justru luput dari perhatian kita semua. Dengan latar belakang inilah maka perlu diadakan pelatihan untuk mengimplementasikan sasaran keselamatan di rumah sakit.

Materi

1.Patient safety is a key component of Risk Management
2.State of The Art Patient Safety (Seven Steps)
3.Standar Keselamatan Pasien Rumah Sakit
4.Instrumen Akreditasi pelayanan keselamatan pasien Rumah Sakit
5.Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien (Langkah 1 Keselamatan Pasien)
6.Memimpin dan mendukung staf untuk komit dan fokus pada Keselamatan Pasien Rumah Sakit (Langkah 2 Keselamatan Pasien)
7.Integrasi Manajemen Risiko
(Langkah 3 Keselamatan Pasien)
8.Sistem Pelaporan di Rumah Sakit (Langkah 4 Keselamatan Pasien)
9.Komunikasi dengan Pasien  (Langkah 5 Keselamatan Pasien)
10.Belajar dan berbagi pengalaman keselamatan pasien (Langkah 6 Keselamatan Pasien, Incident Investigation: Simple Investigation & RCA)
11.Cegah cedera melalui Implementasi keselamatan pasien rumah sakit. (Langkah 7 keselamatan Pasien, Risk Assessment & Redesign Process: HFMEA)

Sasaran peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur RS Negeri Dan Swasta, Klinik Kesehatan di Sekitar Malang Raya
4.Dokter pelaksana
5.Perawat

(jadwal & deskripsi download disini)

D.Dokter Case Manajer

Pelaksanaan :  31 Maret-1 April 2016
1-2 Desember 2016

 

Dasar pemikiran

Pelayanan rumah sakit saat ini harus dapat menjamin tercapainya keselamatan pasien, karena tanpa keselamatan pasien tidak dapat dikatakan pelayanan yang bermutu. Keselamatan pasien baru dapat dijamin atau diyakini tercapai apabila rumah sakit merubah paradigma pelayanan lama yang hanya berorientasi pada penyakit dengan paradigma pelayanan baru yaitu pelayanan berfokus pasien (Patient Centered Care). Untuk tercapainya pelayanan berfokus pasien, asuhan yang diberikan kepada pasien haruslah asuhan yang terintegrasi, dimana semua profesional pemberi asuhan berkolaborasi dalam menjalankan asuhan sehingga dibutuhkan case manager. Manajer Pelayanan Pasien (case manager) adalah profesional dalam RS yang bekerja secara kolaboratif dengan Profesional Pemberi Asuhan (PPA), memastikan bahwa pasien dirawat serta ditransisikan ke tingkat asuhan yang tepat, dalam perencanaan asuhan yang efektif dan menerima pengobatan yang ditentukan, serta didukung pelayanan dan perencanaan yang dibutuhkan selama maupun sesudah perawatan RS. Manajer Pelayanan Pasien (case manager) dapat dilakukan oleh seorang dokter atau tenaga keperawatan yang kompeten.

Materi

1.Pemahaman konsep Pelayanan Berfokus Pasien / Patient Centered Care
2.Interprofesional Collaborative Competency
3.Asuhan terintegrasi adalah implementasi PCC
4.Peranan Rekam Medis dalam Pelaksanaan Patient Centered Care
5.Peran DPJP dalam implementasi PCC
6.Konsep Pembuatan Panduan DPJP
7.Peran Case manajer dalam implementasi PCC.
8.Konsep Pembuatan Panduan Case Manajer
9.Pemahaman tentang Integrated Clinical Pathway dan pembuatannya

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur  RS dan jajaran Direksi RS
4.Pemilik RS atau Dewan / Direksi Perusahaan
5.Komite Medis (Ketua dan Pengurus).
6.Staf Medis Rumah Sakit
7.Staf Keperawatan Rumah sakit

(jadwal & deskripsi download disini)

5. Manajemen Stratejik

Pengelolaan Rs Dengan Model Canvas

Pelaksanaan :  19-20 Januari
14-15 September 2016

Dasar pemikiran

Business Model Canvas (BMC) adalah salah satu alat yang dibuat untuk membantu rumah sakit melihat lebih akurat bagaimana rupa usaha yang sedang atau akan jalani. Melalui BMC perusahaan seakan melihat bisnis dari gambaran besar namun tetap lengkap dan mendetail apa saja elemen-elemen kunci yang terkait dengan bisnis. Dengan demikian rumah sakit bisa melihat gambaran utuh yang sangat membantu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bisnis. Evaluasi terhadap satu demi satu elemen-elemen kunci akan memudahkan analisis terhadap apa yang kurang tepat, dan pada akhirnya perusahaan dapat mengambil langkah untuk mencapai tujuan bisnis.

Materi

1.Course introduction BMC
2.Strategi channeling
3.Misi, visi dan customer value proposition
4.Skenario emphaty map
5.Praktek membuat BMC

Sasaran

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur dan Wakil Direktur Rumah Sakit pemerintah maupun swasta dan Instansi kesehatan lain.
4.Middle Manager RS di bidang mutu
5.Konsultan Rumah Sakit

(jadwal & deskripsi download disini)

6. MANAJEMEN PEMASARAN

A.Manajemen Pemasaran Untuk RS

Pelaksanaan :  19-20 April 2016

4-5 Oktober 2016
Dasar pemikiran

Bisnis perumahsakitan di Indonesia mengalami perubahan yang sangat drastis dengan mulai dijalankannya jaminan kesehatan nasional. Perubahan pada cara pembayaran yang dilakukan BPJS dengan menggunakan sistem pembayaran prospektif, khususnya dengan cara kapitasi untuk pelayanan primer dan INA CBG untuk pelayanan sekunder dan tersier (rumah sakit), dimana kedua cara pembayaran tersebut adalah cara pembayaran borongan yang memaksa dokter dan rumah sakit efisien namun tetap menjaga kualitas layanannya. Dokter dan rumah sakit di suatu wilayah yang memiliki indeks harga/indeks kemahalan yang sama akan dibayar sama. Dalam melayani pasien BPJS, persaingan antara dokter dan rumah sakit terjadi berdasarkan kualitas layanan bukan lagi berdasarkan tarif. Berdasarkan hal tersebut, maka setiap rumah sakit harus mempunyai strategi pemasaran yang baik sehingga dapat memenangkan persaingan pada bisnis perumahsakitan.

Materi

1.Pengenalan konsep STP pada bidang jasa
2.Analisis peluang pemasaran B2B dan B2C
3.Membangun upaya bauran pemasaran
4.Implementasi SWOT pada pemasaran rumah sakit
5.Praktek analisis SWOT pada pemasaran rumah sakit
 

Sasaran Peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Direktur dan Wakil Direktur Rumah Sakit pemerintah maupun swasta dan Instansi kesehatan lain.
4.Middle Manager RS di bidang pemasaran
5.Konsultan Rumah Sakit

(jadwal & deskripsi download disini)

B.Teknik Komunikasi

Pelaksanaan : 26-27 April 2016
11-12 Oktober 2016

Dasar pemikiran

Komunikasi dibutuhkan oleh seseorang sebagai salah satu alat bantu dalam kelancaran bekerja sama dengan orang lain dalam bidang apapun. Komunikasi berbicara tentang cara menyampaikan dan menerima pikiran-pikiran, informasi, perasaan, dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik tercapainya pengertian yang sama antara penyampai pesan dan penerima pesan. Di Indonesia, sebagian dokter merasa tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya. Akibatnya, dokter bisa saja tidak mendapatkan keterangan yang cukup untuk menegakkan diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut. Dari sisi pasien, umumnya pasien merasa dalam posisi lebih rendah di hadapan dokter (superior-inferior), sehingga takut bertanya dan bercerita atau hanya menjawab sesuai pertanyaan dokter saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya yang dilandasi keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan, maupun kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling percaya, pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap sehingga dapat membantu dokter dalam memberikan pelayanan yang tepat kepada pasien. Komunikasi yang baik akan dapat meningkatkan mutu pelayanan di layanan primer. Senada dengan pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pengelolaan yang baik pada layanan primer yang benar berhubungan erat dengan efisiensi biaya tanpa mengurangi mutu sesuai dengan standar yang ada. 
Materi

1.Implementasi beberapa teori perubahan perilaku individu
2.Metode berkomunikasi dengan berbagai karakter kepribadian
3.Mengelola communication barrier dengan kemampuan persuasi
4.Pengenalan teknik komunikasi dan advokasi pada kelompok/komunitas
5.Cara presentasi yang menarik 
Sasaran peserta

1.Staf pengajar di institusi pendidikan dari bidang terkait
2.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
3.Dokter pelaksana di  RS negeri dan swasta, klinik kesehatan di sekitar Malang raya
4.Dokter keluarga  dan dokter gigi BPJS/ Puskesmas/ praktek mandiri
5.Pemerhati mutu pelayanan kesehatan

(jadwal & deskripsi download disini)

C.Service Excellence

Pelaksanaan :  3-4 Mei 2016
18-19 Oktober  2016

Dasar pemikiran

Salah satu tujuan utama didirikan rumah sakit memang untuk memberikan pelayanan prima pada pasien mereka. Tapi, banyak sekali rumah sakit yang hanya asal-asalan saja dalam melayani pasien mereka. Tidak sedikit dari tenaga medis yang memberikan pelayanan kurang memuaskan pasien dan pada akhirnya pasien kapok berobat di rumah sakit tersebut. Bahkan hanya sebagian saja yang memberikan service excellent di rumah sakit kepada pasien. Padahal bukan hanya karyawan di bagian depan saja yang harus memberikan pelayanan prima, namun semua lini juga harus memberikan service excellent. Oleh karena itu dibutuhkan karyawan yang mampu memberikan pelayanan prima atau sering disebut Service Excellence. Pengetahuan atau ketrampilan dalam melayani dapat dibangun dengan  melakukan pelatihan SDM di masing-masing institusi sehingga tujuan dari pelayanan prima dapat terwujud dalam bentuk kepuasan pelanggan. Namun kualitas prima tidak bisa secara otomatis dapat langsung berjalan di suatu organisasi apa bila tidak dimulai, tidak diberi pupuk, dan tidak dijadikan budaya organisasi tersebut.  Maka seluruh jajaran dalam organisasi, dari top management hingga ke lapis bawah harus memiliki nafas yang sama, nafas kualitas pelayanan prima. Karena itulah rumah sakit perlu untuk memberikan pemahaman dan pelatihan terhadap seluruh karyawan di rumah sakit tentang service excellent sehingga kepuasan pasien meningkat.
 
Materi

1.Pelayanan dan Pelayanan Kesehatan
2.Dasar-dasar Pelayanan Prima
3.Etika Pelayanan kepada Pelanggan
4.Keterampuilan Dasar untuk Petugas Pelayanan.
5.Model Pelayanan Prima
6.Pelaksanaan Pelayanan Prima
7.Pengembangan Program Pelayanan Prima
8.Praktek penerapan pelayanan

Sasaran Peserta

1.Mahasiswa jenjang S1 dan S2 Manajemen Administrasi Rumah Sakit, Kedokteran, Kesehatan dan bidang yang terkait
2.Dokter/ dokter gigi pelaksana layanan primer
3.Manajer yang terkait dengan pelayanan
4.Tenaga front liner rumah sakit dan klinik pratama

(jadwal & deskripsi download disini)

mmrs@2016